Suara Maluku

Independen, Nasionalis, Membangun Masyarakat Maluku

  • Search
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
indosat.gif

Child Abuse

E-mail Print PDF
Cinta, gelombang kasih yang tulus hingga usia tengah abad/selebihnya hanya kau yang tahu....

Mungkin hanya kebetulan saja penggalan lirik lagu ”Tembang Lestari” karya Leo Kristi di atas seolah mengingatkan kita pada nasib tragis mahabintang Michael Jackson yang tewas pada usia yang baru saja lewat setengah abad. Lagu ini dinyanyikan dengan amat indah oleh Berlian Hutauruk dan pianis Yockie Suryo Prayogo di Bentara Budaya Jakarta, Senin (29/6) malam. Sayangnya, lirik ”lanjutkan usiamu, lanjutkan semangatmu...” tidak berlaku lagi Jacko....

Hingga kini penyebab kematian Michael Jackson (MJ) masih simpang siur. Jaringan TV Fox hari Minggu petang melaporkan bahwa MJ meninggal karena henti jantung (cardiac arrest), diduga akibat ia meminum secara cocktail atau sekaligus tujuh jenis obat-obat keras yang harus diresepkan dokter. Tiga di antaranya adalah narkotik analgetik (penghilang rasa sakit), yaitu Demerol, Dilaudid, dan Vicodin. Empat obat lainnya masuk kategori antidepresan, antitukak lambung, relaksan otot, dan sedatif.

Menurut pakar farmakologi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr Rianto Setiabudhi, tiga jenis narkotik analgetik yang dikonsumsi MJ seharusnya tidak menimbulkan efek melemahnya denyut jantung hingga henti jantung, hanya menimbulkan depresi napas dan efek sedasi (mengantuk). Namun, diakuinya Demerol (yang mengandung meperidin), Dilaudid (hidromorfon), dan Vicodin (hidrokodon + parasetamol) dapat menimbulkan adiksi (kecanduan).

”Mungkin Michael Jackson menderita nyeri tubuh yang kita belum tahu di mana sehingga ia meminum tiga jenis narkotik penghilang rasa nyeri itu sekaligus. Ia mungkin juga menderita depresi, dan henti jantung justru kemungkinan besar ditimbulkan oleh antidepresan yang diminumnya,” tutur Prof Rianto. Antidepresan mengakibatkan denyut jantung MJ memanjang dan aritmia ventrikel atau bilik jantung berdenyut tak teratur, hingga tiba pada suatu situasi yang disebut torsade de pointes atau irama denyut jantung melambat dan berakhir dengan henti jantung.

Fatamorgana
 
Nasib tragis dan kematian MJ seolah mengulang cara kematian maharaja rock ’n roll Elvis Presley karena overdosis obat-obat penenang. Kebetulan MJ menikahi putri tunggal Elvis, Lisa Marie Presley, tahun 1994-1996. Kepada Lisa Marie, MJ pernah menyatakan kekhawatirannya akan meninggal mendadak seperti Elvis. Sungguh semacam self-fulfilling prophecy atau nubuat yang tergenapi dengan sendirinya....

Menyibak sebab musabab kematian MJ, tak bisa tidak, kita harus menelusuri masa kecilnya. Kuat dugaan, luka batinnya akibat child abuse yang dilakukan ayah kandungnya, Joseph Jackson, justru lebih serius ketimbang sakit fisiknya. ”Kita mesti melihat Jacko dari masa kecilnya. Dari film biografi keluarga Jackson, kita dapat menyimak sedikit psikodinamika kehidupannya,” demikian dr Nalini Muhdi, psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang semalam menuliskan e-mail tentang MJ dari Hongkong.

Kendati demikian, Deepak Chopra, guru rohani yang juga dokter dan sahabat MJ, menyatakan bahwa sejak tahun 2005 ia mengkhawatirkan penyalahgunaan narkotik analgetik oleh MJ ketika bintang ini tinggal bersamanya. Waktu itu Chopra mendampingi MJ ketika menjalani persidangan tuntutan sex abuse terhadap anak-anak kecil. Majalah Newsweek (edisi 6-213 Juli 2009) melaporkan sebuah apotek di Los Angeles tahun 2007 menagih utang 100.000 dollar AS untuk obat-obat resepnya selama dua tahun.

Selain obat-obatan, MJ mengalami masalah keuangan yang serius. Tahun 2008 ia gagal membayar utang sebesar 24,5 juta dollar AS, hingga ranch-nya di Neverland nyaris ditutup. Konser-konser come back-nya keliling dunia yang menurut rencana akan dimulai di London, Juli ini, diperkirakan tak akan menutup utangnya.

Betapapun, menurut dr Nalini, MJ memang hebat. Paling tidak, untuk rentang waktu tertentu ia mampu ”mengalahkan” luka batinnya, masa kecilnya yang terkoyak, lewat prestasinya dalam dunia musik pop dunia. MJ yang kaya, yang tersohor, dengan sederet prestasi gemilangnya, ternyata berakhir hidupnya dalam gelimang sunyi yang sulit dimengerti awam. Gaya hidupnya yang aneh dan menutup diri, mencari dan mencari sesuatu untuk mengisi emosi yang kosong. Ia seperti selalu mengejar fatamorgana.

Semasa kecil, konon MJ harus berlatih keras dan disiplin kaku yang melebihi kapasitas yang dapat disangga seorang anak kecil. Ayahnya mahakeras mendidik anak-anaknya, hampir mereka kehilangan masa kecil yang indah dan ceria, terlambat latihan akan diganjar gebukan ayahnya. ”Cinta kepada ayahnya sedikit demi sedikit tergerus dan digantikan kebencian. Kendati akhirnya mereka berhasil dalam prestasi menyanyi, luka jiwanya yang tak terperi masih terus meninggalkan parut tajam di ingatannya,” ujar dr Nalini.

Dikatakan, child abuse (perlakuan salah terhadap anak) memang bukan perkara sederhana seperti banyak orang memandang dan berpikir selama ini. Child abuse adalah sebuah tragedi kehidupan. Luka fisik bisa terobati, tetapi luka batin meninggalkan jejak panjang seumur hidup yang mau tidak mau membutuhkan bimbingan yang akurat. Child abuse sebagai bagian kekerasan dalam rumah tangga mengakibatkan banyak parut gangguan mental emosional. Pribadi korban menjadi rapuh, citra diri yang buruk, merasa tidak berdaya, marah, sedih, bingung, penuh kecemasan, depresi, dan yang lebih berat lagi.

”Kendati Jacko lantas sukses, tapi pijakannya rapuh dan gampang goyah. Self-esteem yang buruk diatasinya dengan pencapaian-pencapaian di dunianya. Dunia hiburan yang penuh gemerlap dan banyak kegembiraan semu menawarkan pelipur lara kehidupannya, tetapi hanya sementara. Self-esteem yang buruk tersebut lantas membuahkan gangguan body image (body dysmorphic disorder) pada Jacko. Terbukti bagaimana ia mencoba berganti-ganti mengubah penampilan lewat bedah plastik. Jacko yang sebetulnya tidak jelek itu selalu merasa tidak puas dengan tubuhnya dan umumnya disertai dengan gangguan depresi. Jacko merasa tidak berdaya di tengah keberdayaannya di dunia hiburan. Dengan demikian, ketika tiba saatnya bintang itu meredup seiring dengan berjalannya waktu, Jacko limbung,” papar dr Nalini.

Mungkin MJ menggantungkan pride-nya pada gegap gempita tepuk tangan penggemar. Ketika tepuk tangan itu tak terdengar lagi, ia jadi linglung dan kosong. Sesuatu yang kerap terjadi pada beberapa bintang pop, mengidap ”sindrom primadona”. Nyeri sekali menyadari kenyataan bahwa tak ada lagi riuh rendah dan puja-puji penggemar. Apalagi dilandasi kepribadian yang memang rapuh. ”Maka, tak heran kesunyian adalah bencana yang tak tertahankan, depresi menindas hidupnya,” lanjut dr Nalini.
 

Tapak Sejarah

Highslide JS

Australian war heroes cemetary (Pandan Kasturi-Ambon). Andy Manuhuttu

Pojok Penalti

Caleg DPRD Terpilih Dililit Utang Pilkada Malra
Bertanggung jawab jua nyong!!!

Di Ambon, 8 Sekolah Lulus 100 persen
Masih kurang pa' Wali?

Kubu Mega: Pemerintah Harus Jujur Asal Dana BLT
Sama ya bu?

Banner

Paradiso

Highslide JS Highslide JS Highslide JS Highslide JS Highslide JS Highslide JS
Opini Pokok Pikiran Tokoh
Link-Match dan BHP Link-Match dan BHP
oleh: Ishak Ngeljaratan  Isu topikal tentangl link and match programme, yang dijalankan oleh sejumlah universitas atau lembaga perguruan tinggi negeri dan swasta di tanah air, masih dipermasalahkan. Isu ini semakin bermasalah seiring dengan isu badan hukum pendidikan (BHP). Bagaimanakah acuan program demikian dilakukan dan apa pula hasil atau out-putnya yang diharapkan masih tetap menuai kritik. Isu ini menjadi isu bermasalah jika dikaitkan dengan tujuan pendidikan tinggi yang...


Advertising

Tamu hari ini

We have 2 guests online

Iklan Baris

www.joomlart.com
Joomla Templates Club - Professional - High quality Joomla template
www.joomlancers.com
Joomla Freelance Jobs and Projects - JoomLancers Marketplace
www.joomla.org
Joomla! CMS - OpenSource Matters

Polling Anda!

Siapakah yang pantas dipilih