Media apa pun bentuknya mempertegas hal itu. Berita-berita politik, ekonomi, sosial, perang, dan konflik ras, etnik, serta segala bentuk konflik hilang dari pemberitaan. Berita tentang meninggalnya Jacko—begitu Michael Jackson biasa disebut—melindas semuanya.
Reaksi bermunculan dari berbagai belahan dunia: dari para pemimpin dunia; dari Presiden Amerika Serikat Barack Obama hingga Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, dari mantan Presiden Korea Selatan Kim Dae-jung hingga mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela.
Secara ”tergesa-gesa”, berbagai reaksi dan komentar serta berbagai bentuk ungkapan kehilangan itu terjadi lantaran, meminjam istilah yang dikemukakan Michael Eric Dyson, seorang sosiolog dari Universitas Georgetown, ”Michael Jackson membawa seluruh umat manusia melintasi batasan-batasan ras, kelas, dan jender.”
Tidak berlebihan kalau itu salah satu sumbangan Jacko, lewat musik popnya. Kita tidak perlu mendefinisikan ”apa itu musik pop?” Ada yang berpendapat bahwa mungkin hanya kekecewaan yang akan kita dapati ketika berusaha menjawab pertanyaan itu.
Itu karena ada yang mengatakan, ”Jika kita meneliti istilah ini, segala sesuatu akan menjadi kabur saja.” Akan tetapi, mengutip pendapat Fabio Dasilva (dkk) dalam The Sociology of Music (1984), ”Music will be described but not defined.” Jelas kini, definisi ”musik pop” membawa kekaburan bawaan dari definisi ”musik” yang tidak jelas itu.
Kembali ke Jacko—terlepas dari segala macam definisi tentang musik pop itu—lewat musiknya, ia telah memberikan sumbangan tak ternilai bagi peradaban umat manusia. Lewat hitnya yang dirilis tahun 1991, yakni ”Black or White”, Jacko secara jelas dan tegas menetapkan sikapnya terhadap dunia yang masih rasis ini, dunia yang membeda-bedakan ini hanya karena berbeda warna kulit.
Bahkan mungkin dunia yang rasis, yang membeda-bedakan itu, masih terjadi pula di negerinya, AS. Sekarang memang sudah diterobos oleh Obama. Senyatanya, Jacko—sebagai keturunan Afrika-Amerika—telah lebih dahulu menerobos rintangan-rintangan dan hal-hal yang tabu pada masa sebelumnya lewat musiknya.
Musik merupakan bahasa universal. Ia tidak membeda-bedakan. Ia tidak menciptakan kelas dan tidak muncul dari kelas tertentu hanya untuk kelas tertentu pula. Ia tidak hitam dan tidak putih, tetapi sekaligus bisa hitam dan bisa putih yang diterima oleh hitam dan sekaligus putih.
Jelaslah bagi kita, fungsi musik adalah sebagai hiburan, sarana edukasi, sensitivitas, atau pengembangan nilai-nilai luhur dan juga rohani. Dalam bahasa politik, sebenarnya itulah demokrasi.











